Kader Muhammadiyah Kabupaten Bungo Bahas Pendidikan Karakter Dalam Forum Internasional Di Malaysia

Kader Muhammadiyah Kabupaten Bungo Bahas Pendidikan Karakter Dalam Forum Internasional Di Malaysia

JAMBICORNER.COM, Malaysia - Kader Muhammadiyah asal Kabupaten Bungo sekaligus tenaga kependidikan Universitas Muhammadiyah Muara Bungo (UMMUBA), Junaidi, M.Pd., membahas pentingnya penguatan pendidikan karakter anak sekolah dasar dalam forum akademik internasional melalui kegiatan "Colloquium" di Malaysia.

Junaidi yang saat ini menempuh pendidikan doktoral di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), mengangkat isu pendidikan karakter sebagai bagian penting dalam pembangunan kualitas pendidikan dasar. Menurutnya, pendidikan karakter tidak dapat dipandang sebagai pelengkap dalam proses pembelajaran saja, tetapi perlu menjadi bagian yang terencana dalam membentuk sikap, nilai, dan perilaku peserta didik.

Dalam forum tersebut, Juna menyoroti berbagai persoalan yang berkaitan dengan karakter anak usia sekolah dasar. Ia berpandangan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menjadi perhatian di Indonesia, tetapi juga menjadi isu yang relevan dalam konteks pendidikan secara lebih luas. Perkembangan teknologi, perubahan lingkungan sosial, serta berbagai persoalan perilaku anak menjadi tantangan yang membutuhkan respons pendidikan yang sistematis.

Dari perspektif Islam, Juna menegaskan bahwa pembentukan karakter memiliki posisi penting dalam pendidikan. Pendidikan Islam tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak dan perilaku peserta didik. Karena itu, pendidikan karakter perlu dimulai sejak usia sekolah dasar melalui proses pendidikan yang konsisten dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Pendidikan Karakter Perlu Memiliki Arah yang Jelas

Juna juga mengaitkan pentingnya pendidikan karakter dengan amanat pendidikan nasional. Ia melihat bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan peserta didik secara utuh, termasuk aspek sikap, nilai, dan kepribadian.

Menurut Juna, tantangan pendidikan saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur. Pendidikan karakter tidak cukup hanya diwujudkan melalui kegiatan seminar, kegiatan seremonial, atau integrasi sesaat dalam pembelajaran. Sekolah perlu memiliki sistem yang memungkinkan pendidikan karakter berlangsung secara konsisten dalam kehidupan akademik dan sosial peserta didik.

> “Pendidikan karakter harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi anak. Karena itu, pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui kegiatan yang bersifat insidental. Perlu ada proses yang terstruktur, konsisten, dan melibatkan lingkungan pendidikan secara bersama,” ujar Juna dalam pemaparannya.

Ia menilai sekolah dasar memiliki posisi strategis karena berada pada fase penting dalam pembentukan kebiasaan dan nilai anak. Karena itu, penguatan pendidikan karakter perlu melibatkan guru, sekolah, keluarga, serta lingkungan sosial secara berkelanjutan.

Mendorong Pendidikan Karakter yang Lebih Sistematis

Dalam konteks tersebut, Juna mendorong adanya pengembangan model pendidikan karakter yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian nilai, tetapi juga pada praktik dan pembiasaan. Menurutnya, sekolah perlu memiliki strategi yang jelas dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi pendidikan karakter.

Pembahasan tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademik Juna dalam forum "Colloquium" di Malaysia. Ia berharap diskusi mengenai pendidikan karakter dapat berkembang menjadi kajian yang lebih berbasis bukti dan mampu memberikan alternatif penyelesaian terhadap berbagai persoalan pendidikan dasar.

Bagi Juna, forum akademik internasional juga menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman dan perspektif pendidikan dari berbagai latar belakang. Ia melihat diskusi lintas negara sebagai kesempatan untuk memperluas kajian mengenai pendidikan karakter, khususnya dalam menghadapi perubahan sosial dan perkembangan pendidikan pada era saat ini.

Sebagai tenaga kependidikan UMMUBA dan mahasiswa doktoral UMAM, Juna berharap kajian mengenai pendidikan karakter dapat terus dikembangkan melalui penelitian yang memiliki dasar akademik kuat. Menurutnya, pendidikan karakter membutuhkan komitmen jangka panjang agar nilai yang diajarkan di sekolah benar-benar tercermin dalam perilaku peserta didik sehari-hari.(*)